“Ibu tua mengemis di jalanan”
Di sudut kota, senja memanjang,
Ada ibu tua duduk memandang,
Matanya sayu, redup berkaca,
Mengemis hidup di jalan raya.
Kain sarung usang membalut tubuh,
Tangan keriput menadah maaf,
Pada jalannya roda dan sepatu,
Ia memetik harap tanpa lelah.
Orang lalu, mata berpaling,
Langkah cepat, suara hening,
Tapi di dada ibu menyimpan doa,
Agar esok ada secercah bahagia.
Lampu merah menyala redup,
Keping receh jatuh di telapak,
Senyum terukir, walau pahit getir,
Keriput menjadi puisi takdir.
Ia bukan sekadar pengemis tua,
Ada sejarah, luka dan cerita—
Anak yang pergi, rumah terbakar,
Atau hidup yang lambat merapuh sadar.
Ibu di pinggir keramaian kota,
Menyulam kecewa jadi sabar dan takwa,
Semoga ada tangan penuh belas,
Menghapus duka dari ruas-ruas jalanan keras.
Create Your Own Poem |
Recent Poems